Kampung Megalit

Sinjar Bulan Pagaralam

 

banner lahat

Kawasan Megalit Berusia Ribuan Tahun Ditemukan di Sinjar Bulan Pagaralam oleh Agus Harizal Alwie Tjikmat.

agusSenin 10 januari 2011 jam 16:25
KAWASAN peninggalan pra sejarah ditemukan di Desa Sinjar Bulan, yang merupakan salah satu desa yang banyak peninggalan sejarah yaitu batu megalit. Di desa tersebut terdapat puluhan batu megalit berbagai jenis mulai cari Arca, Dolmen, Lesung Batu dan Lumpang Batu.
Pantauan terdapat enam arca di kawasan tersebut, namun 5 diantaranya sudah rusak karena tidak lagi memiliki kepala. Selain itu terdapat juga satu lesung batu, dua lumpang batu dan puluhan dolmen. Letak masing-masing batu tidak terlalu jauh hanya berjarak dua sampai lima meter. Selain sejumlah arca yang tidak memiliki kepala lagi, ada juga beberapa dolmen rusak. Selain itu terdapat beberapa batu yang masih belum digali dan belum tampak jelas bentuknya, namun sudah terdapat beberapa ukiran yang menyerupai wajah manusia.
Batu megalit juga masih banyak di perkebunan warga setempat. Menurut Ical (35), warga Desa Sinjar Bulan Kecamatan Gumay Ulu Kabupaten Lahat, Minggu (9/1), salah satu arca di desa tersebut dinamakan warga setempat Batu Nek Nambeng, yang menurut warga batu itu sudah ada sejak desa tersebut berdiri. Namun tidak seperti arca lainnya yang ada dikawasan Kecamatan Gumay Ulu, Arca Batu Nek Nambeng belum dipagari pemerintah setempat. "Selain itu di kawasan tersebut banyak arca yang sudah rusak akibat dihancurkan tangan yang tidak bertanggung jawab.
Ada lima arca yang sudah tidak memiliki kepala lagi, karena menurut warga setempat sudah dihancurkan oleh orang yang mempercayai bahwa dikepala batu tersebut ada harta karun," ungkapnya. Dikatakannya, batu ini disebut warga kami merupakan Batu Nek Nambeng, Nama ini diberikan oleh pesirah (Kepala dusun) pada zaman dahulu.


megalitSementara itu petugas Balai Arkeologi (Balar) Palembang Kristantina mengatakan, desa Sinjar Bulan bisa disebut sebagai permukiman megalitik. Karena di kawasan tersebut banyak terdapat batu megalit berbagai jenis mulai dari Arca, Lumpang Batu, Lesung Batu dan Dolmen. "Kita sudah mendata semua megalit yang ada di Desa Sinjar Bulan tersebut, dan memang di desa ini banyak temuan batu megalit dengan berbagai jenis," ujarnya. Dikatakannya, di lokasi tersebut memang bisa dikatakan pemukiman megalit. Karena di kawasan itu juga ditemukan tempat pemujaan.
Selain itu kawasannya juga berdekatan dengan sungai. "Memang di kawasan itu banyak ditemukan arca dan dolmen. Hal inilah yang menguatkan bahwa di Desa Sinjar Bulan tersebut dulunya merupakan pemukiman zaman megalitik," ungkapnya. (agus harizal alwie tjikmat/asnadi-pimpred suara nusantara, sudah dipublikasikan di HARIAN UMUM SUARA NUSANTARA edisi Senin 10 Januari 2011)
Sumber: Antara Menurut Hernando, megalit yang sudah ditemukan berupa arca, dolmen, kursi batu, singgasana, dan beberapa lainnya. Namun berbagai peninggalan sejarah ini sebagian besar masih terkubur di dalam tanah di bukit Kayu Manis, dan lahannya sebagian besar milik warga setempat. Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kota Pagaralam, Safrudin, mengatakan penemuan lokasi megalit yang baru ini akan menambah perbendaharaan peninggalan bersejarah di Pagaralam, dan akan segera dilakukan pendataan. "Kita akan segera melakukan peninjauan langsung ke lokasi penemuan megalit tersebut, dan nantinya akan dilakukan kerja sama dengan BP3 Jambi dan Balai Arkeologi Palembang untuk melakukan penelitian," ujarnya.

Kampung Megalitik

Megalit PagaralamKembali Ditemukan di Pagaralam oleh Agus Harizal Alwie Tjikmat
Selasa 7 december 2010 om 14:40
Kampung megalit kembali ditemukan di Desa Gunung Megang Kecamatan Pajarbulan atau berjarak sekitar 15 KM dari Kota Pagaralam, Minggu (5/12). Berbagai macam jenis megalit ini letaknya berada di tengah persawahan warga seluas satu hektar yang berjarak sekitar 500 meter dari Desa Gunung Megang.
Posisi benda bersejarah yang diperkirakan sudah berumur ribuan tahun ini terpencar antara satu arca ke jenis arca lainnya. Di antara salah satu situs terdapat di Kampung Megalit yang ditemukan sejak beberapa bulan lalu itu, adalah arca manusia menungang gajah, megalit gajah, arca putri, lesung batu, lumpang batu, dolmen serta puluhan peninggalan sejarah lainnya. Meskipun hanya ditemukan di atas ladang sayur seluas satu hektare, tapi jika dilihat kondisi tempat tersebut masih banyak megalit yang belum tergali.
Berdasarkan keterangan warga setempat masih banyak situs tersebar di sekitar daerah tersebut, tapi belum ada penanganan dari pihak terkait sehingga dibiarkan saja layaknya batu gunung yang tidak memiliki nilai sejarah.
Menurut Yandari, (35) pemilik lahan lokasi megalit, di areal persawahan ini hampir sebagian besar permukaannya ditemukan bebatuan berupa megalit dan arca, baik berupa lesung batu, arca berbentuk manusia, hewan, tempat pemujaan, dolmen, dan termasuk megalit berbagai bentuk lainnya. “Hingga saat ini belum ada upaya pembebasan lahan dari pemerintah di lokasi sejumlah penemuan megalit ini, karena semua berada di lahan sawah dan sebagian lahan ditanami sayuran, dua lahan sawah itu terdapat sekitar 20 batuan termasuk megalit yang saat ini belum mendapat perhatian baik dari Dinas Pariwisata setempat, maupun dari pihak Balai Arkelogi dan BP3 Jambi," ujarnya.

Dikatakannya, hanya di daerah ini yang sebagian besar lahannya dipenuhi jenis batu megalit, namun baru sedikit sudah dilakukan penggalian dan pemeliharaan, bahkan ada sebagian lagi hilang tertimbun tanah karena belum dipasang pembatas. Sementara itu Petugas Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3 Jambi) wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel, Akhmad Rivai, mengatakan memang sudah banyak ditemukan megalit, arca atau peninggalan bersejarah tersebar di daerah Pagaralam dan Lahat. "Hanya saja kalau untuk daerah yang paling banyak ditemukan benda bersejarah tersebut, berada di satu lokasi baru di daerah Desa Skendal dan Gunung Megang ini," katanya lagi. "Kita sudah lakukan berbagai langkah akan segera pembebasan lahan, termasuk pemagaran lokasi situs dan menunjuk juru kunci untuk menjaga serta memelihara keberadaan berbagai peninggalan bersejarah tersebut," ungkapnya.
Namun demikian, keberadaan megalit yang cukup banyak hanya di satu lahan ini menandakan daerah itu dahulunya merupakan perkampungan nenek moyang terdahulu, sebab selain arca dan ada juga beberapa bangunan batu yang menjadi tempat pemujaan," katanya. (suaranusantara)Foto: http://rejang-lebong.blogspot.com

Kampung Megalitik Kembali Ditemukan di Pagaralam oleh Agus Harizal Alwie Tjikmat
Rumah adat PagaralamSelasa 7 december 2010 om 14:40
Kampung megalit kembali ditemukan di Desa Gunung Megang Kecamatan Pajarbulan atau berjarak sekitar 15 KM dari Kota Pagaralam, Minggu (5/12). Berbagai macam jenis megalit ini letaknya berada di tengah persawahan warga seluas satu hektar yang berjarak sekitar 500 meter dari Desa Gunung Megang.
Posisi benda bersejarah yang diperkirakan sudah berumur ribuan tahun ini terpencar antara satu arca ke jenis arca lainnya. Di antara salah satu situs terdapat di Kampung Megalit yang ditemukan sejak beberapa bulan lalu itu, adalah arca manusia menungang gajah, megalit gajah, arca putri, lesung batu, lumpang batu, dolmen serta puluhan peninggalan sejarah lainnya. Meskipun hanya ditemukan di atas ladang sayur seluas satu hektare, tapi jika dilihat kondisi tempat tersebut masih banyak megalit yang belum tergali.
Berdasarkan keterangan warga setempat masih banyak situs tersebar di sekitar daerah tersebut, tapi belum ada penanganan dari pihak terkait sehingga dibiarkan saja layaknya batu gunung yang tidak memiliki nilai sejarah.
Menurut Yandari, (35) pemilik lahan lokasi megalit, di areal persawahan ini hampir sebagian besar permukaannya ditemukan bebatuan berupa megalit dan arca, baik berupa lesung batu, arca berbentuk manusia, hewan, tempat pemujaan, dolmen, dan termasuk megalit berbagai bentuk lainnya. “Hingga saat ini belum ada upaya pembebasan lahan dari pemerintah di lokasi sejumlah penemuan megalit ini, karena semua berada di lahan sawah dan sebagian lahan ditanami sayuran, dua lahan sawah itu terdapat sekitar 20 batuan termasuk megalit yang saat ini belum mendapat perhatian baik dari Dinas Pariwisata setempat, maupun dari pihak Balai Arkelogi dan BP3 Jambi," ujarnya.

Dikatakannya, hanya di daerah ini yang sebagian besar lahannya dipenuhi jenis batu megalit, namun baru sedikit sudah dilakukan penggalian dan pemeliharaan, bahkan ada sebagian lagi hilang tertimbun tanah karena belum dipasang pembatas. Sementara itu Petugas Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3 Jambi) wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel, Akhmad Rivai, mengatakan memang sudah banyak ditemukan megalit, arca atau peninggalan bersejarah tersebar di daerah Pagaralam dan Lahat. "Hanya saja kalau untuk daerah yang paling banyak ditemukan benda bersejarah tersebut, berada di satu lokasi baru di daerah Desa Skendal dan Gunung Megang ini," katanya lagi. "Kita sudah lakukan berbagai langkah akan segera pembebasan lahan, termasuk pemagaran lokasi situs dan menunjuk juru kunci untuk menjaga serta memelihara keberadaan berbagai peninggalan bersejarah tersebut," ungkapnya.
Namun demikian, keberadaan megalit yang cukup banyak hanya di satu lahan ini menandakan daerah itu dahulunya merupakan perkampungan nenek moyang terdahulu, sebab selain arca dan ada juga beberapa bangunan batu yang menjadi tempat pemujaan," katanya. (suaranusantara) Foto: Rejang Lebong Blogspot

Warga Pagaralam Temukan Keris Ratusan Tahun

Kawah gunung DempoWarga Kota Pagaralam, menemukan keris berumur ratusan tahun peninggalan puyang "Raje Nyawe" di puncak Gunung Api Dempo. Sebetulnya ada dua jenis benda pusaka peninggalan puyang "Raja Nyawa" yang berhasil ditemukan yaitu keris dan tasbih. Demikian diungkapkan Wahadi, warga Kampung II Kelurahan Gunung Dempo, Kecamatan Pagaralam Selatan, Rabu (30/11). Menurut dia, kedua benda pusaka ini berukuran panjang sekitar 30 centimeter dan besarnya sama dengan keris pada umumnya. "Sedangkan tasbih berwarna putih, sementara ukuran dan bentuknya sama dengan yang sering kita lihat," ungkap dia. Ia mengatakan namun untuk mendapatkan berbagai bendan pusaka ini dibutuhkan berbagai ritual termasuk semedi di puncak Gunung Api Dempo. "Sebelumnya saya juga pernah mendapat tungkat naga peninggalan puyang "Raje Nyawe" di puncak Dempo," ungkap dia. Ia mengatakan, penemuan semua benda pusaka ini dilakukan melalui berbagai ritual khusus dan pendekatan secara supranatural atau gaib. "Kebetulan saat itu saya sedang berada di puncak Gunung Api Dempo, seperti biasa ritual yang dilakukan dengan berzikir dan melakukan sahalat malam. Ketika sedang melakukan ritual itulah muncul sinar warna putih dan setelah didekati ternyata benda pusata tersebut," ungkap dia. Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Senibudaya, Sukaimi, mengatakan untuk mendukung Pagaralam, sebagai daerah cagar budaya sudah dibangun berbagai sarana pendukung, seperti musium terbuka dan termasuk rencana pembangunan musium tempat menyimpan benda pusaka. "Kita sudah membuat musium replika megalit di halaman kantor Pemkot Pagaralam, diatas lahan seluas 1/2 hektar," ungkap dia. Dia mengatakan, pembuatan musium ini bukan hanya untuk mendukung wisata sejarah tapi sebagai bentuk pelestarian berbagai aset budaya sejarah yang tersebar di daerah Pagaralam. "Kita ingin bila wisatawan yang datang ke Pagaralam, tidak harus mengunjungi satu persatu lokasi megalit tapi cukup datang ke musium di Komplek Perkantoran Gunung Gare. Selain lokasinya terbuka dan keberadaan musium juga merupakan penghias keindahan taman perkantoran," ungkapnya. (asn)

 

Comments (0)

Cancel or